27 Oct 2013

Matinya Seorang Pembaca Puisi

Seingatku, puisi terakhir dalam genggamannya
adalah milik Amir atau mungkin Ananta.
Waktu hidup dulu menelaah puisi,
tak pernah terduli nyawanya sendiri.
Bila diajak berbicara hal ilmu,
seratus puisi pun, terbelit lidah dia terbisu.
Entah ke mana bait puitis itu membawa,
tak kata ke syurga, tak juga neraka.
Menghadam Kipling setiap hari,
dengki berdaki masih di hati.
Atas kamarnya bergelendang buku,
masuk ke hati tiada pun satu.
Bongkak dan angkuh membaca Shamsir,
bila mati mulutnya hanyir.
Kini mati si penyangak puisi,
pembaca dakwat tidak berisi.



Fatahul Nizam
27 X 2013
Padang Nenas